• Contact Center
  • 1500 007
  • Chatbot

Sindrom Terowongan Karpal: Gejala, Mencegah dan Mengobati

sindrome terowongan karpal

Mungkin tak banyak yang menyadari, aktivitas berulang dengan tangan, seperti mengetik, bermain alat musik, atau pekerjaan manual lain bisa menyebabkan kondisi yang disebut sindrom terowongan karpal. Sindrom ini bisa sangat mempengaruhi individu yang menggantungkan produktivitasnya pada jemari. Artikel ini akan menjelaskan lebih dalam mengenai sindrom tersebut, dari gejala, penyebab, hingga cara pengobatan dan pencegahannya.

Mengenal Sindrom Terowongan Karpal

Sindrom terowongan karpal adalah kondisi medis yang terjadi ketika saraf median atau medianus tertekan atau terjepit di dalam terowongan karpal. Saraf medianus adalah saraf utama yang memberikan sensasi perasaan dan kontrol gerak pada ibu jari, telunjuk, jari tengah, dan sebagian jari manis.

Adapun terowongan karpal adalah lorong sempit di pergelangan tangan yang dibentuk oleh tulang-tulang kecil (karpal) dan ligamen. Di dalam lorong ini, saraf medianus berjalan bersama tendon yang menghubungkan otot lengan dengan tulang tangan.

Ketika terjadi tekanan berlebihan pada saraf medianus, akan terjadi gangguan fungsi yang memicu berbagai gejala neurologis, terutama pada sekitar pergelangan tangan. Sindrom terowongan karpal alis carpal tunnel syndrome (CTS) termasuk salah satu gangguan saraf tepi yang paling umum di dunia. Sebuah studi di Musculoskeletal Care di 15 negara mendapati sekitar 14,4 persen populasi global mengalami CTS.

Menurut tinjauan di Journal of World Science mengenai risiko sindrom terowongan karpal yang terkait dengan pekerjaan, penelitian menunjukkan sindrom ini terkait dengan gerakan tangan yang berulang, getaran tangan-lengan, dan postur tangan yang tidak nyaman selama bekerja. Kondisi ini bisa diatasi dengan perawatan yang tepat. Jika terlambat ditangani, saraf medianus bisa rusak secara permanen.

Gejala Sindrom Terowongan Karpal

Gejala sindrom terowongan karpal biasanya muncul secara bertahap. Berikut ini di antaranya:

  • Kesemutan dan mati rasa atau ada sensasi seperti ditusuk jarum pada ibu jari, telunjuk, tengah, dan separuh jari manis.
  • Nyeri yang menjalar dari pergelangan tangan hingga ke lengan atas atau bahu.
  • Kelemahan otot yang menyebabkan kesulitan memegang benda kecil, sering menjatuhkan barang, hingga kesulitan mengancingkan baju.
  • Merasa jari-jari membengkak padahal secara fisik terlihat normal.

Gejala sering dipicu atau diperparah oleh posisi pergelangan tangan yang menekuk dalam waktu lama, seperti saat mengemudi, membaca buku, atau memegang ponsel.

Penyebab Sindrom Terowongan Karpal

Penyebab utama sindrom terowongan karpal adalah peningkatan tekanan pada saraf medianus dan tendon di dalam terowongan karpal. Hal ini bisa terjadi karena berbagai faktor:

  • Gerakan repetitif dan getaran, misalnya dalam pekerjaan atau hobi yang melibatkan gerakan pergelangan tangan berulang dalam jangka panjang seperti mengetik, menggunakan mouse, menggunakan alat yang bergetar, merajut, atau memotong.
  • Kondisi kesehatan tertentu:
  • Diabetes yang bisa meningkatkan risiko kerusakan saraf, termasuk saraf medianus.
  • Penyakit tiroid yang dapat menyebabkan penumpukan cairan yang menekan terowongan karpal.
  • Reumatoid artritis berupa peradangan pada sendi yang dapat mempengaruhi selubung tendon di terowongan karpal.
  • Obesitas yang bisa memicu penumpukan jaringan adiposa (lemak) pada area terowongan karpal.
  • Perubahan hormonal saat hamil yang bisa menyebabkan retensi cairan hingga meningkatkan tekanan di terowongan karpal.
  • Faktor anatomi, misalnya patah tulang pergelangan tangan atau bentuk terowongan yang secara alami lebih kecil.
Baca Juga:  Sering Kesemutan: Penyebab dan Cara Mengatasinya

Cara Dokter Mendiagnosis Sindrom Terowongan Karpal

Diagnosis sindrom terowongan kapal umumnya melibatkan kombinasi wawancara medis, pemeriksaan fisik, dan tes penunjang yang meliputi:

  • Anamnesis atau wawancara medis mengenai riwayat gejala, pekerjaan, kebiasaan, dan kondisi kesehatan pasien secara menyeluruh.
  • Pemeriksaan fisik, seperti:
  • Tes Tinel: dokter mengetuk ringan saraf medianus di pergelangan tangan. Jika muncul rasa kesemutan atau nyeri seperti sengatan listrik, hasilnya positif.
  • Tes Phalen: pasien diminta menekuk pergelangan tangan sepenuhnya selama 60 detik. Munculnya mati rasa atau kesemutan mengindikasikan CTS.
  • Uji kekuatan dan sensasi: dokter memeriksa kekuatan genggaman dan kemampuan merasakan sentuhan halus di ujung jari.
  • Elektromiografi (EMG) dan studi konduksi saraf yang menurut American Family Physicianmerupakan standar emas diagnosis sindrom terowongan karpal. Tes ini mengukur seberapa cepat sinyal listrik bergerak melalui saraf medianus dan mengevaluasi aktivitas listrik otot.
  • Pemeriksaan pencitraan dengan ultrasonografi atau MRI untuk melihat struktur terowongan karpal.

Cara Mengatasi Sindrom Terowongan Karpal

Penanganan sindrom terowongan karpal dibagi menjadi dua kategori, yakni nonbedah dan bedah:

Nonbedah (Konservatif)

  • Mengistirahatkan tangan dan menghindari gerakan yang memicu gejala.
  • Menggunakan alat penyangga pergelangan tangan terutama di malam hari ketika tidur untuk menjaga tangan tetap dalam posisi netral.
  • Mengonsumsi obat antiinflamasi seperti ibuprofen untuk mengurangi nyeri dan bengkak dalam jangka pendek.
  • Suntikan langsung kortikosteroid ke terowongan karpal untuk meredakan peradangan hebat.
  • Fisioterapi berupa latihan peregangan dan penguatan otot tangan.

Bedah (Operasi)

Jika metode konservatif gagal, operasi pelepasan terowongan karpal atau carpal tunnel release dilakukan untuk memotong ligamen yang menekan saraf medianus guna memperlebar ruang di terowongan karpal. Operasi ini sekarang banyak dilakukan dengan teknik endoskopi dengan sayatan yang sangat kecil dan masa pemulihan lebih cepat.

Baca Juga:  Sering Kebas dan Mati Rasa? Waspadai Tanda-Tanda Saraf Kejepit

Komplikasi Sindrom Terowongan Karpal

Bila sindrom terowongan karpal dibiarkan tanpa penanganan yang tepat, bisa terjadi kerusakan saraf permanen dan menyebabkan komplikasi seperti:

  • Atrofi (kelemahan dan pengecilan) otot pada pangkal ibu jari yang tidak dapat pulih.
  • Kehilangan fungsi sensorik permanen pada ujung jari.
  • Gangguan mobilitas dan kualitas hidup karena kondisi kronis dan kelemahan tangan yang membatasi kemampuan bekerja, merawat diri, serta menikmati hobi.

Pencegahan Sindrom Terowongan Karpal

Terdapat beberapa langkah yang dapat diambil untuk mencegah sindrom terowongan karpal, antara lain:

  • Mengatur tempat kerja agar nyaman bagi pergelangan tangan dan lengan.
  • Tidak memegang pulpen, mouse, atau alat kerja lain terlalu kencang.
  • Menjaga kehangatan tangan karena jika dingin akan lebih rentan mengalami kekakuan dan nyeri.
  • Mengambil jeda secara teratur saat melakukan aktivitas berulang untuk mencegah kelelahan otot, misalnya dengan melakukan peregangan tangan selama 5 menit setiap 25 menit.
  • Rutin berolahraga untuk menguatkan otot tangan dan pergelangan tangan.
  • Mengelola kondisi kesehatan yang berkaitan dengan risiko sindrom terowongan karpal.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika Anda mengalami gejala yang berkaitan dengan sindrom terowongan karpal, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter, terutama jika gejala berlanjut, nyeri makin parah, dan otot melemah hingga mengganggu kegiatan sehari-hari. Bila gejala awal ini diabaikan, bisa terjadi komplikasi yang lebih serius.

Ditinjau oleh:

dr. Marthin Tori, Sp.S

Spesialis Saraf

Primaya Hospital Betang Pambelum

Referensi:

Share to :

Buat Janji Dokter

Promo

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Sahabat Sehat Primaya

Select an available coupon below