• Contact Center
  • 1500 007
  • Chatbot

Fungsi Cabut Pen: Berapa Lama Pen Boleh Dipasang?

Di bidang ortopedi, implan umum digunakan untuk membantu proses penyembuhan tulang yang patah atau perbaikan pada sendi. Implan alias pen ini menjadi penyokong tulang selama penyembuhan berlangsung dan mesti dilepas dalam jangka waktu tertentu. Pemahaman mengenai fungsi cabut pen dalam proses perawatan ortopedi ini penting agar pemulihan bisa optimal dan terhindar dari efek samping yang merugikan.

Apa Itu Pen Ortopedi

Dalam istilah medis, “pen” yang sering disebut orang awam biasanya merujuk pada intramedullary nail atau batang intramedula. Alat ini berupa implan logam yang biasanya berasal dari baja tahan karat atau titanium berbentuk batang panjang yang dimasukkan ke rongga sumsum tulang untuk menyatukan dan menstabilkan tulang panjang yang patah, seperti tulang paha (femur), tulang kering (tibia), atau lengan atas (humerus).

Selain batang intramedula, seperti dijelaskan American Academy of Orthopaedic Surgeons, ada jenis implan lain seperti pelat dan sekrup serta pen yang lebih kecil. Meski bentuknya berbeda-beda, fungsinya sama, yakni menjadi kerangka internal yang menahan fragmen tulang di posisi yang benar sambil menanggung beban agar proses penyembuhan alami tubuh dapat berjalan optimal.

Penggunaan pen ortopedi juga memungkinkan pasien meminimalkan pergerakan tulang dan menghindari komplikasi lebih lanjut. Namun, sebagai alat medis, pen mesti dicabut dari dalam tubuh sesuai dengan rekomendasi dokter. Dokter akan menjelaskan apa saja fungsi cabut pen dan kapan pen bisa dicabut pada saat awal pemasangan.

Apa Saja Fungsi Pen?

Fungsi utama pen adalah memberikan stabilitas pada tulang yang patah. Berikut ini beberapa fungsi spesifik pen dalam konteks ortopedi:

  • Menyokong tulang: pen membantu menjaga posisi tulang selama proses penyembuhan.
  • Mengoreksi deformitas: pada kasus patah tulang yang mengalami pergeseran signifikan, pen membantu mengembalikan posisi tulang ke bentuk anatomi normalnya.
  • Mempercepat penyembuhan: dengan memberikan stabilitas, pen memungkinkan jaringan lunak dan tulang menyatu lebih cepat.
  • Mengurangi nyeri: dengan stabilisasi yang baik, nyeri yang dirasakan pasien dapat diminimalkan.
  • Meningkatkan mobilitas: setelah penyembuhan, pen memungkinkan pasien kembali beraktivitas lebih cepat.

Kenapa Pen Harus Dicabut?

Pen adalah alat bantu, bukan bagian dari tubuh. Karena itu, cepat atau lambat alat tersebut harus dikeluarkan dari tubuh. Keputusan cabut pen bersifat individual yang dipertimbangkan berdasarkan gejala pasien, usia, dan jenis implan. Secara umum, pen dapat dipasang selama 6-12 bulan. Namun dokter akan melakukan evaluasi rutin untuk memantau proses penyembuhan.

Baca Juga:  Langkah Pertolongan Pertama Cedera Olahraga

Selain selesainya proses penyembuhan, pen bisa dicabut dengan alasan:

  • Ada iritasi mekanik karena gesekan ujung pen atau sekrup pada otot, tendon, atau jaringan ikat di atasnya yang bisa menyebabkan nyeri terutama ketika beraktivitas.
  • Nyeri kronis atau ketidaknyamanan pada area pen tanpa penyebab yang jelas. Salah satu fungsi cabut pen adalah mengatasi kondisi ini.
  • Kebutuhan untuk pencitraan medis seperti MRI karena implan logam bisa membuat gambar yang dihasilkan tidak jelas.
  • Muncul rasa cemas karena adanya benda asing di dalam tubuh.
  • Mencegah risiko jangka panjang karena ada risiko tulang di area pen menjadi rapuh, terjadi korosi, atau pen patah jika sudah sangat lama di dalam tubuh bahkan hingga puluhan tahun.
  • Terjadi alergi atau reaksi imun yang berkaitan dengan keberadaan material logam pada pen.

Prosedur Pencabutan Pen

Prosedur cabut pen secara teknis disebut sebagai hardware removal. Meskipun terkesan sederhana, prosedur ini harus dilakukan dengan sangat berhati-hati oleh dokter bedah ortopedi. Tahap-tahapnya biasanya meliputi:

  • Evaluasi praoperasi: dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan radiologi untuk mengecek kondisi tulang dan pen. Jika pen dicabut karena tulang diduga sudah sembuh, dokter akan mengecek antara lain lewat CT scanuntuk memastikannya.
  • Anestesi: prosedur ini memerlukan penggunaan anestesi agar pasien tak merasa kesakitan atau tidak nyaman selama prosedur berlangsung. Jenis anestesi bisa spinal, regional, atau umum, tergantung lokasi dan preferensi.
  • Pembedahan: dokter membuat sayatan di lokasi yang sama atau di dekat bekas luka operasi pemasangan pen sebelumnya. Sekrup-sekrup pen lali dibuka dan batang pen ditarik keluar dengan alat khusus.
  • Penutupan: setelah pen keluar, rongga bekas sekrup akan dibiarkan. Tubuh secara alami akan mengisi lubang-lubang kecil ini dengan jaringan tulang baru dalam beberapa bulan. Luka bekas sayatan lalu dibersihkan dan ditutup dengan jahitan atau staples.
  • Pemulihan: pasien biasanya boleh pulang pada hari yang sama atau esok hari (rawat inap singkat).
Baca Juga:  Kenali Osteoporosis: Penyebab, Risiko, dan Cara Mencegahnya

Risiko Cabut Pen

Setiap tindakan bedah mengandung risiko, termasuk pencabutan pen. Beberapa risiko yang mungkin timbul antara lain:

  • Patah tulang berulang karena ada bekas lubang sekrup yang membuat tulang lebih rentan. Untuk mengantisipasinya, pasien biasanya dilarang melakukan aktivitas berat selama 6-12 minggu pasca-operasi.
  • Cedera saraf ketika dokter tengah mencari posisi sekrup di bawah jaringan parut.
  • Infeksi karena adanya luka baru dari sayatan yang bisa menjadi pintu masuk baru bagi bakteri.
  • Kegagalan pencabutan ketika pen sudah sangat menyatu dengan tulang sehingga tidak bisa dilepas tanpa merusak tulang secara masif. Dalam kasus ini, dokter mungkin memutuskan untuk membiarkan sisa pen berada di dalam.

Berdasarkan uraian di atas, keputusan untuk mencabut pen harus didasarkan pada diskusi mendalam antara pasien dan dokter spesialis ortopedi. Secara umum, pencabutan pen sering menjadi pilihan terbaik untuk kesehatan tulang dalam jangka panjang. Namun, dalam beberapa kasus, pen mungkin boleh dibiarkan terpasang dalam waktu lama jika memang diperlukan. Misalnya pada pasien lansia atau yang mengalami kondisi tertentu sehingga lebih berisiko bila dilakukan pembedahan tambahan.

Ditinjau oleh:

dr. Herjuno Ardhi, Sp.OT, Subsp.CO, AIFO-K

Spesialis Ortopedi dan Traumatologi Subspesialis Cedera Olahraga

Primaya Hospital Tangerang

 

Referensi:

Share to :

Buat Janji Dokter

Promo

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Sahabat Sehat Primaya

Select an available coupon below